Reference
Selasa, 30 Juni 2009 03:41:02
Perjalanan kr toegoe menuju belanda 2008
Kategori: Artikel (8892 kali dibaca)
artikel/gbr01.JPG

Krontjong Toegoe
Jaap - Amsterdam

Ratusan truk berjejer di Tanjung Priok. Supir-supir duduk sambil merokok di dekat truk mereka. Sesekali mereka berteriak memanggil pedagang asongan. Jarum jam seakan berhenti sesaat di Semper. Amat kontras dengan jalan tol sewaktu jam-jam sibuk di pusat Jakarta. Beberapa pengemudi sedang mengutak-atik mesin truk mereka.
“Grup Krontjong Toegoe? Tentu saja kami tahu. Di ujung jalan sana!” ujar salah seorang supir truk sembari tersenyum.
Keluarga Michiels tinggal di sebuah rumah tua yang asri. Pepohonan rimbun terasa sejuk di tengah-tengah kawasan industri dan tempat parkir truk. Semper bernafaskan blues seperti New Orleans.

  

Andre J Michiels adalah putra ketiga dari keluarga Michiels, pemusik krontjong terkenal di kawasan Tugu. Dari tingkat dua kantornya, Andre memutar CD terbarunya Oud Batavia Kerinduan. Pecinta krontjong Walter de Kok meyakinkan Andre untuk membuat album setelah pentas di Belanda pada tahun 2006.
“Oud Batavia, Oud Batavia. Ik zal jou nooit vergeten. (Batavia di masa lampau, tidak akan kulupakan) Sampai aku mati,” Andre bersenandung melankolis. Suasana Tempo Doeloe di tahun 1900-an seakan hadir kembali di kediamannya. Andre terlihat rileks sebagai pemimpin Orkes Krontjong Toegoe.

Grupnya akan tampil di acara televisi populer Kick Andy Show. Setiap Kamis, talkshow ini menarik jutaan pemirsa di Indonesia.
Presenter Andy Noya tidak jarang mengangkat tema-tema sensitif ke layar kaca. Pentas lain sudah pernah mereka tampil antara lain di TVRI, Trans TV dan ANTV,DAAI TV sepetinya hampir semua station TV pernah meliput kegiatan kami . Krontjong Toegoe adalah "wajah" krontjong di Indonesia.
Andre harus mengatur kostum grupnya. Berkali-kali ia berusaha menghubungi anggota orkesnya melalui telepon genggam. “Tanya saja adik saya. Ia lebih banyak tahu tentang sejarah daripada saya,” sergahnya sembari menelpon salah satu anggota band-nya. Adiknya, Arthur, adalah pemain bas dan penggemar binaraga.

  
artikel/gbr02.JPG
  

Untuk ke empat kalinya mereka akan tampil di Belanda. “Di Pasar Malam Besar nanti kami akan pentas 12 hari, dua kali dalam sehari,” tutur Arthur. Ia adalah pemain bas pertama di Krontjong Toegoe. Sebelumnya, orkes ini menggunakan cello. “Hanya di krontjong Indonesia saja, orang memetik cello seperti bas,” lanjutnya.
“Saya mulai bermain alat musik bas sejak usia 18 tahun dan makin menggemari krontjong. Krontjong bisa mewakili rasa sedih, senang dan romantis. Musik ini amat santun, tetapi tidak mengurangi ekspresi. Kami bisa berimprovisasi, baik sewaktu latihan maupun di atas panggung,” terang Arthur.
Di acara Pasar Malam Besar di Belanda, Krontjong Toegoe akan membawakan lagu-lagu "klasik" seperti Jali-jali, Surilang dan Moresco. Selain itu, hits populer seperti Volare dan Hotel California juga akan dimainkan. “Semacam regenerasi krontjong dan untuk lebih menarik minat generasi muda,” tambah Arthur sembari tertawa renyah.
“Kami juga mengarang lagu sendiri. Tiap tahun saya menulis sebuah lagu. Sengaja tidak terlalu banyak, supaya orang tidak cepat lupa,” pungkas Arthur. Kakaknya Andre terlihat tidak sabar menunggu rekan-rekan lainnya. Orkesnya belum komplit. Kick Andy Show sudah menunggu dan mereka harus melawan kemacetan di Jakarta.

  
artikel/gbr03.JPG
  

Kampung Tugu terletak empat kilometer sebelah barat Pelabuhan Tanjung Priok, di Kecamatan Cilincing dan Kelurahan Semper Barat. Di tahun 1661, ada kira-kira 20 keluarga keturunan Portugis Hitam atau Mardijkers dengan jumlah keseluruhan 150 orang. Kebanyakan dari mereka adalah tahanan perang atau serdadu Portugis.
Konflik berdarah terjadi selama 20 tahun antara Belanda dan Portugis. Portugis kalah dan warga Mardijkers dibebaskan setelah bekerja beberapa tahun bagi VOC. Namun, mereka tetap berkewajiban membayar pajak ke VOC. Selain itu, mereka harus pindah keyakinan dari Katholik ke Protestan dan mengganti nama keluarga Portugis mereka dengan nama Belanda.
Mardijkers juga diwajibkan belajar bahasa Belanda dan dilarang menggunakan adat-istiadat Portugis. Generasi mereka biasa disebut Orang Tugu. “Kami adalah generasi ke sepuluh Orang Tugu. Kami bangga menjadi bagian keluarga Michiels,” papar Andre. Ia menarik nafas lega setelah 1,5 jam perjalanan ke studio Metro TV.
Krontjong erat dengan musik fado asal Portugis dan biasanya terdiri dari satu atau dua gitaris, pemusik tiup, pemain biola dan pemain bas. Menurut beberapa musikolog, irama krontjong mirip dengan lagu-lagu rakyat Portugis di masa silam, salah satunya Nina Bobo. Lirik krontjong pada perkembangan selanjutnya lebih banyak dipengaruhi bahasa Belanda daripada Portugis.

“Alleen naar jou verlangt mijn hart (Hanya untukmu rindu hatiku),” lantun Saartje Michiels, leadsinger Krontjong Toegoe dengan suara hangatnya. Band Krontjong Toegoe berakar dari budaya Portugis. Tahun lalu,tepatnya tgl.07 Juli 2007 Duta Besar Portugal, Brasil, Mozambik dan Timor Leste berkunjung dan mencari benang merah hubungan ke”potuguese”an orang Tugu dengan mereka.

  
artikel/gbr04.JPG
  

Rombongan duta besar tersebut disuguhi musik krontjong dan di akhir acara mereka menawarkan kursus bahasa Portugis bagi penduduk setempat. Arthur menyambut antusias tawaran kursus itu. Ia ingin memperbaiki lafal beberapa lagu berbahasa Portugis dan kelak mewariskan ke generasi berikutnya dengan ucapan yang baik dan benar.
Andre dan Arthur belajar krontjong dari ayah mereka. Arend Julinse Michiels adalah pemimpin orkes tenar Krontjong Toegoe. “Saya sudah biasa mendengar krontjong sejak berumur empat tahun,” cerita Arthur. Andre, kakaknya dan pemain gitar, mengangguk setuju. Saat itu, mempelajari krontjong adalah kebutuhan utama.
Di tahun 70-an, musik krontjong adalah sumber mata pencaharian. “Generasi pendahulu kami amat disiplin. Kami tidak boleh menyentuh atau berada terlalu dekat dengan peralatan musik mereka. Padahal, kami mulai beranjak dewasa di sekitar tahun 80-an,” tandas Arthur terbahak.
Mereka duduk santai di sebuah warung sederhana sambil menikmati semangkuk soto ayam dan menghisap kretek sesudahnya. Di hadapan mereka, gedung Metro TV milik mediagigant dan pengusaha sukses Surya Paloh asal Aceh berdiri megah. Anggota band Krontjong Toegoe bergegas menuju ke studio.

  
artikel/gbr05.JPG
  

Persaudaraan akrab terlihat menonjol di antara anggota orkes. Lengan sebagian musisi dihiasi dengan tattoo. Mereka tersenyum ketika ditanya tentang pentas di Pasar Malam Besar dan fans mereka, terutama gadis-gadis Belanda. “Pasar Malam luar biasa. Penonton sangat menghargai krontjong. Namun, kami lebih senang tinggal di Indonesia. Tugu adalah kampung kami,” sela Tino, adik laki-laki bungsu Andre dan Arthur.
Sayang, minat negara asing terhadap krontjong tidak selalu berdampak positif. Di tahun 1972, seorang penggemar krontjong Vietnam-Perancis, Ngac Him, memperkenalkan diri sebagai ahli dari Unesco dan sedang membuat penelitian musik. Diam-diam ia merilis 13 album di pasar Eropa tanpa izin dari Orkes Krontjong Toegoe.
“Kami tidak menerima sepeser uang pun,” tegas Andre sambil mengangkat bahunya. Paman Andre, C.H. Michiels, yang bermukim di Zutphen, Belanda, di tahun 1974 berhasil menghentikan produksi album-album tersebut melalui proses hukum. Belakangan, Krontjong Toegoe bahkan mendapat undangan untuk promosi di Amerika.
Kini, Andre bersikap lebih hati-hati dan menginginkan jaminan tertulis. “Kami main musik bukan sekedar untuk mendapat uang. Perusahaan angkutan barang saya masih terus berjalan. Kalau tidak, darimana saya bisa bertahan hidup? Kami menggeluti krontjong dengan itikad baik. Kami bangga bisa membawa nama Indonesia ke dunia internasional,” jelas Andre.
Sementara itu, di kamar VIP studio Metro TV grup Krontjong Toegoe sedang berias. Saartje Michiels mengoreksi dandanan anggota orkes lainnya. Pemusik pria masih sibuk mengenakan pakaian dan topi khas Tugu. Di studio, Saartje mencek kembali mikrofon dan presenter Andy Noya sedikit berkelakar dengan mereka.
“Awas, kalau kurang ajar, saya kirim kalian pulang ke rumah!” teriak Andy Noya. Andre dan grup-nya sudah pentas sebanyak empat kali dan berfungsi sebagai sidekick di acara Kick Andy Show. Publik mulai berdatangan dan floor-director langsung memberikan aba-aba. Krontjong Toegoe memainkan dua lagu sebelum show dimulai.

  
artikel/gbr06.JPG
  

Andre dan Saartje tampil menawan dan selalu menyelipkan humor-humor segar di sela-sela pentas mereka. Penonton ikut tergelak dan menikmati atmosfir santai sembari bernostalgia di Batavia. Sejenak penonton lupa berada di dalam studio televisi. Andy Noya memasuki podium diiringi aplaus penonton. Sekali lagi floor-manager memberikan instruksi, “Lima, empat, tiga, dua, satu!” Krontjong Toegoe kembali beraksi.

  
(Admin)
 
Komentar Terkini (0 komentar)
Belum ada komentar