Profile
Kampung Tugu
Daerah Tugu sebagai daerah tua dan diperkirakan keberadaannya telah berlangsung sejak kurang lebih pada pertengahan abad ke-5. Hal ini didasarkan atas batu bertulis (prasasti) yang diketemukan di daerah Kampung Batu Tumbuh, Kelurahan Tugu Selatan (sekarang Kelurahan Tugu dimekarkan menjadi Kelurahan Tugu Selatan dan Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara). Batu bertulis itu menyebutkan adanya sebuah kerajaan bernama Tarumanegara yang bercorak Hindu dengan rajanya adalah Purnawarman. Adanya pemekaran wilayah kelurahan pada bulan Nopember 1986, daerah Tugu secara administratif mengalami perubahan. Sebelum adanya pemekaran, wilayah Kampung Tugu termasuk ke dalam wilayah Kelurahan Tugu.

Namun setelah adanya pemekaran, maka Kelurahan Tugu sekarang pecah menjadi tiga wilayah kelurahan, yakni Kelurahan Tugu Utara, Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan koja dan Kelurahan Semper Barat, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Untuk menelusuri asal-usul nama Tugu ada beberapa pendapat yang satu dengan lainnya berbeda. Pertama, ada sementara orang yang mengatakan bahwa nama Tugu diambil dari tugu sebagai tanda batas tempat atau wilayah yang waktu itu banyak terdapat di daerah ini. Tetapi, ada pula yang berpendapat bahwa tugu diambil dari kata Por-tugu-ese (Portugis). Adapun pendapat yang ketiga menyebutkan lebih mendekati pada latar belakang sejarah, yakni nama Tugu ada kaitannya dengan prasasti (batu bertulis) yang ditemukan di daerah ini, yaitu batu yang berbentuk bulat telur bertuliskan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Prasasti ini berasal dari abad ke-5 Masehi dan merupakan salah satu dari tujuh prasasti raja Purnawarman dari kerajaan Tarumanegara. Nama Tugu sekarang diabadikan untuk nama kelurahan, tetapi dahulu nama Tugu dipergunakan untuk menyebutkan nama tempat, misalnya Kampung Tugu Batu Tumbuh, Kampung Tugu Rengas, Kampung Tugu Tipar, Kampung Tugu Semper, dan Kampung Tugu Kristen. Dari keterangan yang diperoleh, nama Kampung Tugu Batu Tumbuh disebut demikian berasal dari ceritera sebagai berikut. Pada masa penjajahan Belanda dahulu datang ke Kampung Tugu seorang bangsa Belanda yang dikawal oleh pembantunya seorang Bumiputra. orang Belanda tersebut masuk hutan dan pembantunya disuruh menunggu di luar. setelah hari hampir senja, orang Belanda tersebut tidak kembali. sehingga pembantunya merasa khawatir, lalu menyusulnya masuk ke hutan.

Setelah tiba di bawah pohon Laban (Lontar), orang Belanda tersebut ditemukan sudah tidak bernyawa lagi dan di bawahnya ditemukan sebuah batu muncul ke permukaan tanah. Ternyata setelah dibongkar dan diteliti oleh para ahli bangsa Belanda, maka batu tersebut adalah sebuah prasasti bekas peninggalan raja Purnawarman dari kerajaan Tarumanegara. Kemudian karena prasasti itu dikeramatkan oleh penduduk, maka dipindahkan dan disimpan di Museum Nasional (Museum Gajah). Sejak prasasti itu dipindahkan, muncul di tempat itu, yakni di bawah Laban (Lontar) dua buah batu kecil lonjong bentuknya. oleh sebab itu kampung tersebut dikenal dengan nama Kampung Tugu Batu Tumbuh. Adapun nama Kampung Tugu Rengas karena dahulunya disana banyak pohon rengas, tetapi sekarang pohon tersebut jarang kita jumpai. Sedangkan Kampung Tugu Tipar berasal dari kata nipar yang artinya menanam padi kebun. Dahulu penduduk yang tinggal disana untuk memanfaatkan tanah darat atau kebun yang kosong selalu ditanami padi. Adapun nama Kampung Tugu Semper dan Tugu Kristen menurut beberapa penduduk adalah semper berasal dari kata emper, mungkin karena letak tempat itu berada diemperan atau paling depan.

Sedangkan Kampung Tugu Kristen karena penduduknya yang tinggal dekat gereja tua sekarang kebanyakan menganut agama Kristen. Selain nama kampung yang memakai kata Tugu disanapun terdapat pula nama-nama kampung lainnya, seperti Kampung Rawa Gatel, Kampung Tegal Kunir, Kampung Mangga, dan Kampung Tanah Merah. Rawa Gatel berasal dari dua suku kata yaitu rawa dan gatel. Adapun rawa-rawa yang ada pada waktu itu umumnya ditumbuhi oleh tanaman ganggeng dan patil lele. Jika ada orang yang turun ke rawa itu, maka badannya terasa gatal-gatal karena kedua tumbuhan air tesebut. Begitu pula nama kampung Tegal Kunir, konon kabarnya disana tinggal seorang Cina kaya yang bernama Babah Eng Lim. Ia mempunyai tempat penggilingan padi yang ditarik oleh kerbau. Sisa-sisa padi yang digiling (menir) ditaruh di tegalan atau lapangan, sehingga tegal itu berwarna kuning seperti kunir, sehingga dikenal dengan sebutan Tegal Kunir. Adapun Kampung Mangga namanya diambil dari buah mangga karena dahulunya tempat ini banyak pohon mangga. Begitu pula Kampung Tanah Merah, sebelum Pertamina mengurug tempat ini dahulunya tempat tersebut merupakan daerah rawa-rawa dan sawah. Daerah Kampung Tugu diperkirakan telah dihuni orang sejak jaman prasejarah. Hal ini dibuktikan dari hasil penggalian arkeologi yang dilakukan oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta bekerja sama dengan Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1973. Adapun hasil penggalian arkeologi tersebut berupa pecahan-pecahan gerabah lokal (kreweng) dan manik-manik yang berasal dari jaman bercocok tanam atau perundagian (Neolitikum). Kemudian nama Tugu muncul kembali dalam lembaran sejarah Indonesia sekitar abad ke-5 Masehi masa raja Purnawarman dari kerajaan Tarumanegara yang dibuktikan dengan sebuah prasasti yang isinya menceritakan tentang pembuatan saluran air untuk irigasi sepanjang 15 km dalam waktu 22 hari serta menghadiahkan 1000 ekor sapi kepada kaum Brahmana. Setelah itu nama Tugu tidak terdengar lagi dan baru pada abad ke-17 setelah kampung Tugu oleh Pemerintah Belanda dijadikan tempat pemukiman untuk orang-orang Portugis yang menjadi tawanan Belanda. Pada tahun 1648 Malaka yang merupakan daerah kekuasaan bangsa Portugis jatuh ke tangan Belanda. Tentara bangsa Portugis yang berasal dari Goa, Bengal, Malabar, dan daerah-daerah jajahan Portugis lainnya di India dijadikan tawanan perang Belanda dibawa ke Indonesia yaitu ke Kampung Tugu. Mereka terkenal sebagai tentara yang berani dan ahli perang. Untuk kepentingan beribadah mereka mendirikan sebuah gereja yang sampai sekarang masih dapat kita saksikan.
 

Pada masa revolusi fisik penduduk Kampung Tugu ikut pula berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 16 September 1945, W.R. Patterson (Wakil Panglima SEAC) dengan mempergunakan kapal perang Cumberland mendarat di Tanjung Priok dan pada tanggal 29 September 1945 jam 10.00 WIB, Letnan Jendral Christison panglima besar Allied Forces Netherland East Indies (AFNEI) mendarat di Jakarta. Dalam pendaratan itu Inggris diboncengi serdadu-serdadu NICA dari orang-orang Belanda. Adapun maksud kedatangan mereka akan melucuti tentara Jepang yang kalah perang, tetapi kesempatan itu dipergunakan oleh Belanda untuk menjajah Indonesia kembali. Keadaan di Jakarta semakin genting, karena Belanda yang mendarat di Tanjung Priok kemudian merayap melebarkan sayapnya masuk ke pedalaman. Tanjung Priok adalah daerah yang pertama kali menjadi ajang pertempuran di Jakarta. Daerah ini dijaga oleh TKR Laut yang dipimpin oleh M. Hasibuan, B. Sitompul, T. Hasibuan, Syamsudin Alwi, Mochtar, dan lain-lain. Pada tanggal 12 November 1945 tentara-tentara Belanda (NICA) mutai melakukan terror terhadap penduduk Tanjung Priok dengan jalan mengadakan penculikan-penculikan terhadap beberapa orang yang dianggap mencurigakan. Keadaan di Tanjung Priok semakin panas dan kurang menguntungkan bagi pertahanan barisan pejuang, seperti barisan Pelopor, TKR, dan lain- lain. Sementara itu gerakan tentara Sekutu terus masuk kedaerah pedalaman melalui Cilincing untuk menduduki Kampung Tugu (Semper, Sukapura) dan Marunda. Di Kampung Tugu pada waktu itu telah dibentuk organisasi perlawanan rakyat yang terdiri dari :
- Laskar Rakyat
- Hizbullah di bawah pimpinan Kyai Nur Ali
- Barisan Keamanan Rakyat (BKR)
- Beruang Merah;
- TKR, dan lain-lain.
Merekalah yang mempertahankan daerah Tugu dan sekitarnya dari serangan tentara Belanda dan Sekutu. Untuk mengetahui dengan pasti asal-usul penduduk Tugu ini memang agak sulit. Berdasarkan informasi penduduk asli bahwa masyarakat asli Tugu hidup dari pola bercocok tanam. Pola bercocok tanam di persawahan hal yang sangat maju di daerah ini dan ini didukung dengan adanya satuan irigasi yang pernah dibuat pada jaman raja Purnawarman. Luasnya lahan pertanian yang ada pada waktu itu tidak mustahil daerah Tugu mengundang pendatang dari luar daerah. Apalagi pada masa musim panen padi. Umumnya penduduk yang datang ke daerah Tugu adalah penduduk berasal dari Kerawang, Bekasi dan sekitarnya. Pada mulanya penduduk itu hanya datang pada musim panen padi, tetapi lama kelamaan mereka bermukim dan kemudian mengikat perkawinan dengan penduduk setempat. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda daerah Tugu pernah dipergunakan sebagai tempat pembuangan tawanan orang-orang Portugis, kemudian mereka dibebaskan dan kawin dengan penduduk setempat. Terbukti sampai saat ini masih dijumpai kelompok keturunan orang-orang Portugis di daerah ini. Pada saat ini daerah Tugu telah berkembang dengan pesat baik dalam system pendidikan, matapencaharian, kependudukan maupun sarana-sarana lainnya, seperti bangunan-bangunan, sarana transportasi dan lain-lainnya. Perkembangan semacam itu banyak membawa dampak bagi kehidupan masyarakat Tugu, terutama mengenai populasi penduduk yang telah beraneka ragam. Tingkat pertambahan penduduk di daerah Tugu juga dikarenakan adanya kelahiran secara alami. Tingkat urbanisasi di daerah Tugu relatif tinggi dan ini dikarenakan kesempatan kerja bagi para pendatang, masih dapat ditampung, misalnya disektor jasa, perdagangan dan lain-lain. Umumnya kalangan urban itu berasal dari berbagai daerah di Indonesia, khususnya penduduk di Pulau Jawa dan Madura. Para pendatang tersebut biasanya mempunyai sanak saudara yang telah tinggal di daerah Tugu. Sehingga jumlah urban setiap tahun untuk daerah Tugu selalu meningkat. Setelah penyerahan kedaulatan sampai dengan tanggal 1 April 1950 Kampung Tugu Batu Tumbuh masuk wilayah Kabupaten Bekasi Jawa Barat. Kemudian pada tanggal 20 Oktober 1950 Kampung Tugu Batu Tumbuh masuk wilayah Kotapraja Jakarta Raya, yaitu Kelurahan Semper. Pada tahun 1966 terjadi pemecahan wilayah di mana Kampung Tugu Batu Tumbuh sebagian wilayahnya masuk Kelurahan Tugu dan sebagian lagi masuk Kelurahan Semper berdasarkan Perda tanggal 9 Agustus 1966. Berdasarkan Lembaran Daerah Tahun 1966 Nomor 4 dalam rangka dekonsentralisasi Pemerintah Ibukota Jakarta terjadi penataan wilayah-wilayah, dengan jalan pemecahan Kelurahan Semper yang semula meliputi Kampung Mangga, Bendungan Melayu, Tegal Kunir, Kampung Batu Tumbuh, Rawa Gatel, sebagian Rawa Badak, Kampung Walang, Kampung Bulak, dan Kampung Sawah Baru. setelah terbentuknya Kelurahan Tugu, maka ada beberapa daerah yang masuk wilayah Kampung Tugu, seperti Kampung Walang, Kampung Bulak dan Kampung Sawah Baru. Dengan adanya penataan wilayah-wilayah tersebut akhirnya pada tahun 1976 kelurahan Semper masuk wilayah Kecamatan Cilincing, sedangkan Kelurahan Tugu masuk wilayah Kecamatan Koja. Pada tahun 1986/ 1987 Kelurahan Tugu, karena pemekaran wilayah dibagi dua kelurahan yaitu Kelurahan Tugu Utara dan Kelurahan Tugu selatan. Adapun Kimpung Tugu Batu Tumbuh masuk wilayah Kelurahan Tugu Selatan. Kampung Tugu berjarak 5 km dari pantai dengan ketinggian ±2 meter dari permukaan laut. Keadaan geografis Kampung Tugu berupa dataran rendah yang dahulunya merupakan daerah persawahan yang cukup luas dan irigasi yang baik dengan diselingi rawa-rawa. Ini dapat dilihat dengan adanya kali buatan atau irigasi tersier yang berinduk pada kali Cakung. Dahulu kali Cakung airnya deras dan jernih serta berfungsi ganda,yakni selain dapat dipergunakan untuk irigasi juga sebagai sarana transportasi, mandi, dan cuci. Sebelum adanya jalan raya, satu-
 
satunya transpodasi yang menghubungkan Kampung Tugu dengan daerah luar yaitu perahu. Di Kampung Rengas pada waktu itu sudah ada pasar setiap harinya pasar ini ramai dikunjungi oleh penduduk dari Kampung Tipar, Batu Tumbuh, Sukapura, Kampung Mangga, Tugu Kristen, dan Semper. Mereka pergi ke pasar naik perahu. Penduduk setempat menjual hasil buminya ke daerah Cakung dengan perahu. Transportasi lainnya selain melalui sungai juga dengan jalan darat yaitu jalan kaki atau naik sepeda. Baru pada tahun 1938 dibuatlah jalan oleh BPO yang menghubungkan daerah Cakung - Batu Tumbuh - Semper - Cilincing dan yang menghubungkan Cakung - Batu Tumbuh – Tanjung Priok. Pemerintah Belanda membuat jalan tersebut hanya untuk kepentingan perang. Jalan tersebut belum diaspal cukup hanya untuk kendaraan roda empat. Setelah tahun 1960-an keadaan di Kampung Tugu menjadi ramai karena dibukanya sarana pendidikan, pasar, tempat ibadah, dan lain-lain. Dengan adanya proyek MHT yang dilaksanakan pada masa pemerintahan Gubernur Ali Sadikin, maka jalan-jalan setapak berubah menjadi jalan kampung yang diaspal. Kampung Tugu yang pada mulanya termasuk salah satu daerah pertanian yang menghasilkan padi yang cukup potensial, sekarang sudah memasuki jaman pembangunan. Sebagian daerah pertanian telah berkembang menjadi daerah pemukiman dan daerah industri. Sawah-sawah yang tersisa, walaupun masih dipakai sebagai tanah garapan, sudah tidak diolah lagi. Selanjutnya daerah persawahan yang masih ada akan dijadikan daerah pemukiman dan industri sesuai dengan rencana induk pembangunan Pemerintah DKI Jakarta.

Di sepanjang jalan raya sekarang tidak lagi kita jumpai pohon-pohon yang rindang atau padi yang sedang menguning, melainkan sudah menjadi lempat pemukiman, pertokoan, bengkel, dan gudang-gudang. Pada umumnya penduduk Tugu memeluk agama Islam dan hanya sebagian kecil yang memeluk agama Nasrani. Penduduk Tugu umumnya taat menjalankan perintah agama, karena itu di daerah Tugu banyak dijumpai bangunan mesjid maupun musholla. Ketaatan mereka menjalankan agama juga terlihat dengan adanya kegiatan anak untuk mengaji. Peranan ustadz, muslim/santri, dan haji untuk daerah Tugu sangat penting dan istimewa. Adanya peranan yang tinggi semacam itu, maka tidak mustahil kebanyakan warga Tugu mempunyai keinginan untuk menunaikan ibadah haji. Sementara bagi yang mampu dan telah menunaikan ibadah haji ingin sekali mereka menunaikan haji untuk yang kedua kalinya beserta keluarga. Pada jam-jam tertentu saat berlangsungnya sholat, bagi warga Tugu merupakan saat yang istimewa. Apalagi pada saat waktu sholat subuh, magrib, maupun saat sholat jumat berlangsungnya serentak antara masjid satu dengan masjid lainnya, orang-orang dewasa pantang untuk melakukan kegiatan bekerja. Demikian juga bagi anak-anak pantangan untuk bermain atau berada di luar rumah. Dengan adanya pantangan semacam itu mungkin dimaksudkan agar orang-orang yang sedang melakukan sholat dapat dengan khusyu. Sebagaimana di daerah-daerah lain di Jakarta yang dihuni oleh orang Betawi, banyak jenis tradisi atau adat-istiadat yang bersumber pada agama Islam. Sebagai contoh tradisi/adat-istiadat masyarakat Tugu yang bersumber pada agama Islam, antara lain tata cara pernikahan, acara tujuh bulan, kelahiran, khitanan, kematian dan lain-lainnya. Tradisi lain yang masih hidup di daerah Tugu yaitu pesta bumi atau sedekah bumi yang dilaksanakan pada saat panen. Acara ini dimaksudkan sebagai tanda syukuran atas hasil panen yang diperolehnya. Acara pesta bumi ini biasanya dihadiri oleh semua kalangan masyarakat Tugu, termasuk diantaranya kelompok warga keturunan Portugis. Setelah acara pesta bumi biasanya dilangsungkan pameran hasil bumi. Pada waktu pameran ini banyak diantara warga ikut berpartisipasi, misalnya menjual berbagai masakan khas daerah Tugu, seperti gado-gado, dodol, dan lain sebagainya Kelompok keturunan orang-orang Portugis pada waktu hari Natal sampai menjelang tahun baru mempunyai tradisi memperagakan tarian ala Tugu yaig dipengaruhi kebudayaan Portugis. Kebiasaan mereka dalam hal ini dengan dijamu dan minum-minum sampai mabuk. Peninggalan sejarah terdapat di Kampung Tugu Batu Tumbuh yang sekarang masuk wilayah Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Sebuah batu bertulis yang dikenal dengan nama prasasti Tugu ditulis dengan huruf Pallawa, berbahasa Sansekerta, di atas batu berbentuk bulat telur. Prasasti ini merupakan satu-satunya peninggalan sejarah yang arkeologis dan bercorak Hindu yang ditemukan di Kampung Tugu. Prasasti Tugu pertama kali diketahui pada tahun 1879 dan untuk pertama kali diterjemahkan serta dibahas oleh H. Kern pada tahun 1911 atas usana De Roo de la Faille dipindahkan ke Museum Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Watenschappen (sekarang Museum Nasional). Tulisan Kern tahun 1885 selanjutnya disusul oleh tulisan sarjana-sarjana yang lain, diantaranya J.Ph. Vogel tahun 1925, N.J. Krom tahun 1929 dan 1931, dan R.M.Ng. Poerbatjaraka tahun 1952. Transkripsi (alih aksara) secara lengkap yang berjumlah lima baris berbentuk syair serta terjemahan batu prasasti tersebut dalam bahasa Indonesia ialah sebagai berikut : a. pura rajadhirajena guruna pinabahuna khata khyatam purim prapya. b. cadrabhagarnnavam yayau//pravarddhamane dvavin/sadvatsare/srigunaujasa narendradhvajabhutena. c. /srimata purnnavarmmana//parabhya phalgune mase khata krsnastami tithau caitra/sukla trayoda/syam dinais siddhaikavinsakaih. d. ayata satsahasrena dhanusamsasatena ca dvavinasena nadi ramya gomati nirmalodaka//pitamahasya rajarser vvidaryya sibiravmnim. e. brahmanair ggo sahasrena prayati krtadaksina// Terjemahannya : “Dulu (kali yang bernama) Candrabhaga telah digali oleh Maharaja yang mulia dan mempunyai lengan kencang dan kuat (yakni Raja Purnawirawan), buat mengalirkannya ke laut, setelah (kali ini) sampai di istana kerajaan yang termashur. Di dalam tahun yang ke-22 dari takhta Yang Mulia Raja Purnawarman yang berkilau-kilauan karena kepandaian dan kebijaksanaannya serta menjadi panji-panji segala raja-raja (maka sekarang) beliau menitahkan pula menggali kali yang permai dan berair jernih, Gomati namanya, setelah sungai itu mengalir di tengah-tengah tanah kediaman Yang Mulia sang pendeta Neneknda (Sang Purnawarman). Pekerjaan ini dimulai pada hari yang baik tanggal 8 paro-petang bulan Phalguna dan disudahi pada hari tanggal 13 paro-petang bulan Caitra, jadi hanya 21 hari sedang galian itu panjangnya 6122 tumbak. Selamatan baginya dilakukan oleh para brahmana disertai 1000 ekor sapi yang dihadiahkan”. Dengan diterjemahkannya prasasti tersebut yang menarik ialah munculnya beberapa dugaan tentang lokasi ibukota dari Raja Purnawarman (kerajaan Tarumanegara) serta lokasi dari sungai Candrabhaga dan Gomati itu sendiri.

Sungai Candrabhaga oleh Poerbatjaraka diidentifikasikan dengan sungai Bekasi kota candrabhaga di balik ucapannya dan dipisah menjadi Bhaga dan Candra yang artinya bulan atau sasi, jadi ucapan lengkapnya menjadi Bhagasisi atau Bekasi. Selanjutnya dekat sungai Bekasi inilah diperkirakan letak istana kerajaan yang termasyhur itu. N.J Krom dalam dugaannya juga mengatakan bahwa ibukota Tarumanegara terletak di sekitar desa tugu, Tanjung Priok. Begitu pula J. Noorduyn dan H.Th. Verstappen dari hasil penelitian tahun 1972 menyimpulkan bahwa ibukota kerajaan Tarumanegara harus dicari di daerah Tugu dan sekitarnya, yaitu di suatu tempat yang dekat dengan aliran kali Cakung. Ia juga menyebutkan bahwa sungai Candrabhaga dalam prasasti Tugu tidak lain adalah bagian dari Kali Cakung yang sekarang masih mengalir di daerah Tugu. Lokasi bekas Prasasti Tugu tepatnya terletak di suatu tempat yang disebut Kampung Batu Tumbuh. Walaupun pada tahun 1911 batu prasasti tersebut telah diambil dan disimpan di Museum Nasional. Namun banyak masyarakat yang mengkeramatkan dan datang melakukan ziarah di bekas situs Prasasti Tugu dengan menyebutnya "Kramat Batu Tumbuh". Bekas lokasi yang dikeramatkan tersebut sampai tahun delapan puluhan masih tampak bangunan cungkup beratap genteng berpagar bilik yang dibangun di atas tempat keramat dimaksud. Tetapi dengan dibuatnya jalan tembus dari daerah Tugu ke daerah pergudangan Cakung/Pulo Gadung, keramat Batu Tumbuh terkena pembuatan jalan tembus tersebut dan lokasi bekas Prasasti Tugu kini diperkirakan menjadi jalan raya tersebut. Tinggalan sejarah yang telah berusia lebih dua setengah abad sekarang ini terletak di Kampung Kurus (Kampung Kecil), Kelurahan Semper Barat, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Bangunan gereja yang lebih dikenal dengan nama Gereja Tugu ini secara darurat telah dibangun (ada) sejak tahun 1678, dan merupakan pemberian dari seorang dermawan bernama Justinus van der Vinck, yakni tuan tanah di daerah Cilincing. Tahun 1737 pendeta Tydt merehab bangunan gereja yang masih darurat tersebut, tetapi pada tahun 1740 bangunan gereja hancur habis terbakar ketika di Batavia terjadi pemberontakan cina. Tahun 1747 Gereja Tugu dibangun kembali oleh pendeta Mohr dan ditabhiskan pada tanggal 29 Juli 1774. Atas ijin Gubernur General van lm Hoft yang berkuasa di Batavia, gereja tersebut boleh dibangun di Desa Tugu, hingga kini masih dapat disaksikan serta berdiri kokoh yang dikenal dengan nama "Gereja Tugu Portugis". Mengenai bentuk/arsitektur Gereja Tugu, ada yang mengatakan mengambil gaya dari bangunan gereja Belanda abad ke 18 Masehi. Di lain pihak ada juga yang mengatakan bahwa bangunan tersebut seperti bentuk gereja Evora (Santome) di dekat Lisabon. Di bagian depan bangunan gereja dibuat teras yang saat itu berfungsi untuk duduk-duduk bagi tuan tanah Justinus van der Vinck bila sedang berkunjung ke daerah Tugu. Lokasi Gereja Tugu dengan radius seluas 500 m, kelestariannya dilindungi dengan Surat Keputusan Gubernur KDKI Jakarta nomor Cb.11/2/8/72 yakni tentang penetapan desa Tugu dengan fokus Gereja Tugu sebagai daerah yang dilindungi Undang-Undang Monumen (Monumen Ordonnahtie Stbl.238 Tahun 1931). Musik keroncong merupakan perpaduan dari unsur-unsur Barat dan unsur-unsur Timur. Unsur-unsur Timur yang dimaksud ialah kebudayaan Arab yang saat itu bangsa Arab menguasai semenanjung Iberia. Beberapa unsur dari Timur tersebut ialah; lagu Moresco, alat musik Asmboarijin atau rebana yang dipakai oleh keroncong di daerah Tugu. Sedangkan peralatan lainnya tergolong pada unsur Barat, termasuk pada irama lagu-lagu. Kapan munculnya musik keroncong di daerah Tugu ialah bersamaan dengan datangnya orang-orang Portugis di daerah Tugu yakni kurang lebih tiga setengah abad yang lalu (abad ke 17 masehi). Lagu keroncong yang pertama di daerah Tugu bahkan di Indonesia ialah keroncong Moressco. Keroncong Tugu mula-mula hanya dimainkan orang-orang dengan gitar kecil yang namanya gitar Frorenga 4 dawai, gitar Monica 3 dawai, gitar Jitera 5 dawai. Dalam perkembangan selanjutnya, baik alat musik maupun jumlah pemain alat musik menjadi bertambah, yakni dengan dipakainya alat musik lain seperti suling, gendang rebana, mandolin, cello kempul, biola, triangle (besi segi tiga). Lagu-lagunya yang semula hanya 4 buah, Moresco, Nina Bobo,Founga, dan Kafrinyo bertambah dengan Irama Stambul dan Irama Melayu. Alat-alat keroncong dibuat sendiri di daerah Tugu, bahan kayu diambil dari kayu wares dan kayu kembang kenanga. Alat tersebut selalu berdawai 5 yang terbuat dari benang kasur (senar) yang disebut bonding. Kayunya tidak diplitur atau dicat dan tidak dilem, tetapi dibobok, sehingga merupakan satu kesatuan. Pakaian pemainnya selalu memakai baju pangsi warna putih, celana batik model piyama dan syal melingkar dileher, memakai pet hitam ala Portugis. Daerah Tugu merupakan sebuah situs prasejarah yang berasal dari masa bercocok tanam sampai masa perdagangan (Neolitik akhir dan Perunggu). Hal ini dibuktikan dengan adanya peninggalan sisa budaya pada jamannya yang ditemukan dalam penggalian-penggalian arkeologi disitus tersebut. Beberapa peninggalan budaya pada masa prasejarah tersebut ialah :
- beliung-beliung persegi terbuat dari batu kersikan diupam halus berasal dari masa bercocok tanam dan merupakan alat dalam kehidupan sehari-hari (pertanian) tahun 2000 – 1000 sebelum masehi.
- pecahan-pecahan gerabah (periuk, kendi, tempayan, pasu, dan sebagainya) dengan hiasan berbagai ragam pola hias yang pembuatannya sudah memakai roda putar berasal dari tahun 1000 – 500 sebelum masehi. Benda-benda budaya tersebut terbuat dari tanah liat.

Referensi : Kampung Tua di Jakarta, Dinas Museum dan Sejarah, 1993.
Sumber : diskominfomas